![]() |
Peta Wilayah Pemekaran Kabupaten Bumiayu |
BUMIAYU, harianbumiayu.com-Fenomena kotak kosong di Pilkada Kabupaten Brebes 2024 mestinya menjadi barometer dukungan masyarakat terhadap wacana pemekaran Kabupaten Bumiayu.
Hal ini diungkapkan oleh Yusfi Wawan Sepriyadi, mantan aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jogja yang kini berprofesi sebagai wartawan.
Menurut Yusfi, kotak kosong bukan hanya pilihan dalam kontestasi politik, tetapi juga cerminan aspirasi masyarakat yang merasa belum terakomodasi oleh calon atau kebijakan yang ada.
"Fenomena ini bisa menjadi sinyal penting tentang sejauh mana masyarakat mendukung ide-ide besar seperti pemekaran Kabupaten Bumiayu," ujar Yusfi melalui catatan tertulisnya, Jumat (20/12).
Dalam Pilkada 2024, kotak kosong muncul ketika hanya satu pasangan calon (paslon) yang maju. Masyarakat yang tidak puas dengan pilihan yang ada dapat menyatakan sikapnya melalui kotak kosong.
"Jika suara mayoritas jatuh pada kotak kosong ataupun suara berimbang, ini bisa menjadi sinyal bahwa masyarakat membutuhkan perubahan yang lebih substansial, termasuk dalam hal pemekaran wilayah," tambah Yusfi.
Selain itu, mestinya wacana pemekaran Kabupaten Bumiayu bukan hanya sekedar wacana musiman setiap 5 tahunan menjadi barang dagangan oknum-oknum politisi.
Tentu saja, pemekaran Kabupaten Bumiayu mestinya menjadi wacana yang terus digulirkan dan konsisten untuk terus di gelorakan. Bahwa fenomena kotak kosong pada pilkada 2024 ini menjadi bukti ketidakpuasan masyarakat.
Aspirasi ini didasari oleh keinginan masyarakat Bumiayu untuk mendapatkan otonomi lebih besar, baik dalam pelayanan publik maupun pengelolaan sumber daya.
Yusfi menjelaskan, Pilkada Brebes 2024 dapat dijadikan "tester politik" untuk mengukur dukungan masyarakat terhadap pemekaran.
"Jika masyarakat Brebes, khususnya di wilayah Bumiayu dan sekitarnya, banyak yang mendukung kotak kosong atau perolehan suara mengimbangi calon tunggal , ini berarti ada kebutuhan untuk evaluasi lebih mendalam terhadap kepemimpinan lokal dan wacana pemekaran harus menjadi prioritas pembahasan," katanya.
Sebaliknya, kemenangan paslon tunggal dapat mengindikasikan bahwa masyarakat merasa cukup terwakili dan mendukung status quo.
"Namun, apa pun hasilnya, fenomena kotak kosong ini tetap memberikan pelajaran politik yang penting bagi Brebes dan Bumiayu," tegasnya.
Pemekaran Kabupaten Bumiayu menghadapi berbagai tantangan, mulai dari administratif hingga politik. Namun, dukungan masyarakat menjadi kunci utama dalam proses ini.
Yusfi berharap, fenomena kotak kosong dapat membuka ruang diskusi yang lebih luas tentang urgensi pemekaran Bumiayu.
"Ini bukan hanya soal Pilkada atau calon tunggal, tetapi tentang masa depan masyarakat Bumiayu. Kita perlu menjadikan aspirasi rakyat sebagai dasar utama pengambilan keputusan," pungkas Yusfi. (R).